Selasa, 12 Oktober 2021

PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN PENYAKIT KARAT PURU PADA TANAMAN ALBASIA

 

 T

anaman Albasia atau Sengon sangat populer dan banyak dibudidayakan oleh masyarakat di pedesaan. Tanaman ini pertumbuhannya cepat serta memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi. Ada beberapa jenis penyakit yang teridentifikasi menyerang tanaman Albasia diantaranya adalah penyakit karat puru.



Serangan karat puru pada Albasia ditandai dengan terjadinya pembengkakan (galls) pada batang, ranting/ cabang, pucuk-pucuk ranting, tangkai daun dan helaian daun. Gall ini merupakan tubuh buah dari jamur.

Penyakit karat puru dapat menjadi persoalan yang serius dalam pengelolaan tanaman Albasia. Penyebaran penyakit ini sangat cepat. Penyakit ini menyerang Albasia mulai dari persemaian sampai lapangan dan pada semua tingkatan umur. Kerusakan serius bila serangan terjadi pada tanaman muda (umur 1-2 tahun), karena titik-titik serangan (gall) bisa terjadi di batang utama sehingga batang utama rusak/ cacat, sehingga tidak dapat menghasilkan batang pohon yang berkualitas tinggi




Cara pencegahan dan pengendalian penyakit karat puru dapat dilakukan dengan beberapa cara diantaranya adalah sebagai berikut :
  1. Untuk serangan penyakit karat puru di persemaian, maka semai yang menunjukkan gejala serangan harus segera dicabut dan dimusnahkan (dibakar).
  2. Untuk mencegah perluasan sebaran penyakit karat puru, perlu pengawasan yang ketat tentang transportasi benih, bibit, dan kayu tebangan dari daerah yang diketahui telah terserang ke daerah yang belum terserang.
  3. Pemeliharaan tanaman yang sudah ada (pemupukan dan penjarangan).
  4. Untuk tanaman yang telah terserang, maka upaya yang perlu dilakukan adalah menghilangkan gall dan bagian tanaman yang terserang sedini mungkin, sebelum gall membesar dan berwarna coklat. Langkah selanjutnya adalah mematikan sel-sel penyakit karat puru di bagian yang terserang agar tidak tumbuh gall lagi.
  5. Untuk mematikan sel-sel penyakit di bekas gall di atas dapat digunakan spiritus, kapur, garam, dan belerang. Caranya adalah sebagai berikut : a. Spiritus :  Bagian tanaman yang terserang dibersihkan dengan cara mengelupas galll tersebut dari batang/cabang/pucuk,. kemudian bagian tersebut disemprot/ dioles dengan spirtus; b. Kapur + garam (5 kg kapur + 0,5 kg garam) dicampur dalam   5-10 liter air. Bagian tanaman yang terserang dibersihkan dari gallnya, kemudian  disemprot/dioles dengan campuran kapur garam; c. Belerang 1 kg + kapur 1 kg (1 : 1) + air 10/20 liter, diaduk hingga rata. Bagian tanaman yang terserang dibersihkan dari gallnya, kemudian bagian tersebut disemprot/dioles larutan belerang kapur.
  6. Menghindari penanaman Albasia untuk sementara, terutama di dataran tinggi yang berkabut.
  7. Untuk pengendalian jangka menengah dan jangka panjang dilakukan dengan cara rotasi tanaman dan pemuliaan tanaman Albasia sebagai berikut : a. Rotasi tanaman : penggantian Albasia sebagai tanaman pokok, diganti dengan jenis-jenis cepat tumbuh yang potensial dan tidak menjadi inang jamur Uromicladium sp. Selama ini yang menjadi inang penyakit karat puru adalah dari jenis-jenis famili Fabaceae/Leguminosae, seperti jenis-jenis Acacia spp, Paraserianthes/Albizzia spp. dan Racosperma spp; b. Pemuliaan tanaman Albasia : dicari individu-individu pohon Albasia yang tahan terhadap penyakit karat puru.
Demikianlah sedikit pengetahunan tentang cara pencegahan dan pengendalian penyakit karat puru pada tanaman Albasia, semoga bermanfaat. 

Daftar Pustaka :

Nair, KSS. 2000. Insect Pests And Diseases In Indonesia Forest. CIFOR. Bogor

Jumat, 03 September 2021

PENYEBAB PENYAKIT KARAT PURU PADA TANAMAN ALBASIA HUTAN RAKYAT

 Tanaman Albasia atau Sengon sangat populer dan banyak dibudidayakan oleh masyarakat di pedesaan. Tanaman ini pertumbuhannya cepat serta memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi. Ada beberapa jenis penyakit yang teridentifikasi menyerang tanaman Albasia diantaranya adalah penyakit karat puru.


Gambar Persemaian Tanaman Albasia

Serangan karat puru pada Albasia ditandai dengan terjadinya pembengkakan (galls) pada ranting/cabang, pucuk-pucuk ranting, tangkai daun dan helaian daun. Gall ini merupakan tubuh buah dari jamur.

Penyakit karat puru dapat menjadi persoalan yang serius dalam pengelolaan tanaman Albasia. Penyebaran penyakit ini sangat cepat. Penyakit ini menyerang Albasia mulai dari persemaian sampai lapangan dan pada semua tingkat umur. Kerusakan serius bila serangan terjadi pada tanaman muda (umur 1-2 tahun), karena titik-titik serangan (gall) bisa terjadi di batang utama sehingga batang utama rusak/cacat, tidak dapat menghasilkan batang pohon yang berkualitas tinggi.


Gambar Karat Puru Pada Batang Tanaman Albasia

Penyebab penyakit karat puru yang menyerang tegakan Albasia adalah jamur Uromycladium tepperianum. Jamur ini dikenal sebagai jamur karat yang menyerang lebih dari seratus spesies Acacia, jenis-jenis Paraserianthes/ Albizia spp., Racosperma spp. (ketiganya merupakan anggota famili Fabaceae ( Leguminosae), menyebabkan pembengkakan (gall) yang mencolok pada dedaunan dan ranting pohon.


Gambar Karat Puru Pada Batang dan Ujung DaunTanaman Albasia

Setiap gall karat puru dapat melepaskan ratusan sampai ribuan spora yang dapat menularkan ke pohon-pohon sekitarnya dengan cepat melalui bantuan angin.  Ukuran, bentuk, dan warna gall bervariasi tergantung bagian tanaman yang terserang dan umur gall.  Warna gall pada awalnya hijau kemudian berubah menjadi coklat. Warna coklat indikasi bahwa spora-spora yang melimpah siap dilepaskan.

Sebaran geografi penyakit ini adalah di Australia, New Caledonia, Papua New Guinea (1984), Maluku (1988/1989), Afrika Selatan (1992), Sabah (1993), Philiphina (1997), Timor-Timur (mulai tahun 1998), dan Jawa (mulai 2003).


Di Jawa, beberapa sentra Albasia yang diketahui telah terserang penyakit karat puru antara lain Lumajang, Jember, Banyuwangi, Probolinggo, Malang, Wonosobo, Boyolali, Salatiga, dan Wonogiri.


Di Jawa Barat juga sudah ditemukan serangan karat puru namun masih dapat dikendalikan.


Daftar Pustaka :

Nair, KSS. 2000. Insect Pests And Diseases In Indonesia Forest. CIFOR. Bogor.


Rabu, 02 Juni 2021

CARA MENGUKUR PANJANG KAYU BUNDAR (LOG)


Untuk kita ketahui terdapat beberapa istilah yang digunakan dalam pengukuran kayu bundar menurut Standar Nasional Indonesia (SNI) 7533.1:2010 sebagai berikut :
  • Kayu bundar adalah bagian batang dan atau cabang dari pohon, berbentuk  bundar memanjang dengan ukuran tertentu.
  • Panjang kayu bundar adalah jarak terpendek antara kedua bontos sejajar sumbu kayu.
  • Bontos adalah penampang melintang pada kedua ujung kayu, yaitu dipangkal disebut bontos pangkal dan di ujung disebut bontos ujung.
  • Diameter kayu bundar adalah agka rata-rata diameter pangkal dan diameter ujung atau angka pengukuran diameter ujung.
  • Volume atau isi adalah hasil perhitungan yang didapat dari hasil pengukuran panjang dan diameter dengan menggunakan rumus tertentu.

Pengukuran kayu bundar dimaksudkan untuk mengetahui volume hasil panen sehingga dapat menduga berapa nilai ekonomi dari kayu tersebut. Untuk mengetahui volume kayu log terlebih dahulu kita harus mengetahui ukuran panjang dan diameternya. Baiklah untuk tahapan pertama kita akan membahas bagaimana cara mengukur panjang dari kayu log.

Bagaimana cara mengukur panjang kayu log secara benar agar dapat diketahui berapa jumlah yang dihasilkan, berikut adalah penjelasan singkat tentang tata cara pengukurannya.
Panjang kayu log diukur menggunakan satuan meter dengan kelipatan 10 cm, ukuran panjang diberikan spilasi (pengurangan ukuran/pilasi) atau trim allowance sebesar 10 cm.
Contohnya :
Berdasarkan hasil pengukuran log pada tabel di atas bilamana panjang log hasil pengukuran lapangan 4,18 m maka panjang log ditetapkan 4,00 m.
Berikut adalah contoh cara pengukuran panjang yang benar berdasarkan berbagai kondisi log.
Gambar 1. Bentuk log lurus dengan potongan bontos siku dan rata.

Gambar 2.a. Bentuk log lengkung satu dengan potongan bontos siku.

Gambar 2.b. Bentuk log lengkung dua dengan potongan bontos siku.

Gambar 3.a. Pengukuran panjang apabila pusat bontos masih berada dalam ½ lingkaran bontos.

Gambar 3.b. Pengukuran panjang apabila pusat bontos berada di luar ½ lingkaran bontos.

Gambar 4. Pengukuran panjang apabila bontos tidak siku.

Demikianlah cara singkat pengukuran panjang kayu log dengan berbagai kondisinya, semoga bermanfaat bagi kita semua.
Terima kasih

Rabu, 31 Maret 2021

MEMBANGUN KEMITRAAN MENCIPAKAN PELUANG USAHA KELOMPOK TANI HUTAN

Kemitraan menurut Undang-Undang No. 9 Tahun 1995 adalah kerjasama antara usaha kecil dengan usaha menengah atau dengan usaha besar disertai pembinaan dan pengembangan yang berkelanjutan oleh usaha menengah atau usaha besar dengan memperhatikan prinsip saling memerlukan, saling memperkuat dan saling menguntungkan. 

Kemitraan secara praktis dapat dikatakan sebagai suatu strategi usaha yang dilakukan oleh kedua belah pihak atau lebih dalam jangka waktu tertentu untuk meraih keuntungan bersama dengan prinsip saling membutuhkan dan saling membesarkan. 

Merujuk kepada kedua pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa kemitraan merupakan sarana yang digunakan oleh kedua belah pihak untuk saling bekerja sama dalam bidang usaha guna tercapainya tujuan bersama yang saling menguntungkan. 

Kemitraan yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah kemitraan antara Kelompok Tani Hutan (KTH) dengan pihak lain utamanya pengusaha yang berkaitan dengan usaha KTH dalam memajukan kelompoknya. Berdasarkan pengalaman penulis selaku penyuluh kehutanan di lapangan, untuk mewujudkan kemitraan antara KTH binaan dan pengusaha (pemilik modal) tidak lah mudah. Memerlukan proses yang agak panjang dari mulai proses inisiasi, membangun relasi dan mewujudkannya dalam bentuk perikatan yang dilandasi dengan saling percaya dan saling menguntungkan.

Keterangan gambar : Temu usaha di KTH Giri Mukti Desa Situmekar Kecamatan Cisitu Kabupaten Sumedang.

Penulis mengidentifikasi setidaknya terdapat beberapa persyaratan yang perlu dipenuhi untuk terciptanya kemitraan antara KTH dengan pihak pengusaha diantaranya adalah :
1. Adanya KTH yang ingin bermitra 
2. Adanya pihak lain yang mau diajak bermitra (pengusaha)
3. Adanya komoditas yang akan dikembangkan bersama
4. Adanya kepercayaan yang kuat antara kedua belah pihak
5. Adanya kerjasama yang saling menguntungkan

dan masih dimungkinkan terdapat beberapa faktor lain yang mungkin dapat mempengaruhi berhasilnya suatu kemitraan.

Kemitraan dapat membantu KTH dalam mengembangkan usaha kelompoknya, karena melalui kemitraan KTH dapat terbantu dari sisi permodalan, pengetahuan, keteramplan serta jaminan pemasaran komoditas yang dikerjasamakan.



Keterangan gambar : Kemitraan penanaman tanaman poran di bawah tegakan di KTH Giri Mukti Desa Situmekar Kecamatan Cisitu Kabupaten Sumedang.

Kemitraan juga bukan hanya menguntungkan bagi KTH tetapi kalau dikelola kurang baik dapat juga merugikan bagi kelompok, misalnya adanya ketidak setaraan posisi antara kelompok dengan pihak mitra. Namun demikian bilama kemitraan dikelola dengan baik manfaatnya bagi kelompok akan lebih besar.

Maju selalu KTH Hutan lestrai masyarakat sejahtera.

Jumat, 05 Februari 2021

GERAKAN TANAM DAN PELIHARA POHON DI LAHAN KRITIS (GTPP)

MENUMBUHKAN KESADARAN MASYARAKAT TERHADAP PENTINGNYA GERAKAN TANAM DAN PELIHARA POHON DI LAHAN KRITIS


Bapak Gubernur Provinsi Jawa Barat Mochamad Ridwan Kamil telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor 522.4/17/Sek tanggal 19 Februari 2020 tentang Pelaksanaan Gerakan Tanam dan Pelihara Pohon Di Lahan Kritis Kabupaten/ Kota Se-Jawa Barat. Surat edaran tersebut nampaknya dilatar belakangi oleh kondisi lahan kritis Jawa Barat yang memerlukan penanganan cepat guna mengantisipasi terjadinya bencana alam di beberapa wilayah Jawa Barat yang terjadi akhir-akhir ini. Disamping hal tersebut,  juga sebagai salah satu upaya nyata yang akan dilakukan dalam menjawab amanah Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 7 Tahun 2005 tentang Pengendalian dan Rehabilitasi Lahan Kritis.



Sumber : Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat Tahun 2020. 

Sesuai dengan surat edaran Bapak Gubernur Jawa Barat Nomor 522.4/17/Rek tanggal 19 Februari 2020 tentang Pelaksanaan Gerakan Tanam dan Pelihara pohon Di Lahan Kritis Kapaten/ Kota Se Jawa Barat. Surat edaran tersebut mengamanatkan kepada seluruh kalang warga masyarakat Jawa Barat untuk melaksanakan gerakan tanam pohon, sebagai berikut :
1. Setiap Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan pemerintah Provinsi Jawa Barat  sebanyak 10 pohon
2.  Menikah sebanyak 10 pohon/orang
3.  Kelulusan/Wisuda (SMA/Perguruan Tiggi) sebanyak 10 pohon/orang
4.  Berulang tahun sebanyak 1 pohon/orang
5.  Kenaikan pangkat/promosi jabatan ASN/TNI/POLRI sebanyak 50 pohon/orang
6. Masyarakat yang memperoleh perpanjangan STNK kendaraan roda 2 (dua) sebanyak 5 pohon dan kendaraan roda 4 (empat) sebanyak 10 pohon 
7. Badan usaha yang memperoleh izin (IMB/izin usaha/dsb) sebanyak 100 pohon/badan usaha. Bagi masyarakat/badan usaha yang tidak memiliki lahan, maka partisipasi gerakan tanam pohon dapat berupa penyampaian bibit pohon ke Kantor Cabang Dinas Kehutanan/petuga Penyuluh Kehutanan di wilayahnya.


Surat Edaran Nomor 522.4/17/Sek tanggal 19 Februari 2020


Selanjutnya agar informasi tersebut tersampaikan kepada masyarakat secara baik, maka peran petugas Penyuluh Kehutanan sebagai kepanjangan tangan pemerintah mengambil peran disini. Petugas Penyuluh Kehutanan memiliki kewajiban untuk menyebar luaskan informasi  ini kepada masyarakat di wilayah kerjanya masing-masing, sekaligus sebagai akselerator dalam implementasi kebijakan tersebut. Guna percepatan penyampaian informasi serta keberhasilan dalam implementasi GTPP, beberapa metode penyebaran informasi dapat dilakukan diantaranya melalui media penyuluhan seperti selebaran/poster/leaflet dll. yang dapat ditempelkan pada tempat-tempat strategis di ruang publik agar semua orang dapat mengetahuinya.



Poster Penyuluhan GTPP




Poster Terpasang di Kantor Kecamatan Cisitu Kabupaten Sumedang


Sebagai kontrol keberhasilan dalam pelaksanaan gerakan penanaman, maka masyarakat/badan usaha yang telah melakukan penanaman dapat melaporkannya melalui http://www.e-tanam.id.  

Mengingat sampai dengan saat tulisan ini dibuat Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) dan Petunjuk Teknisnya (Juknis) masih dalam tahap penyusunan oleh yang berwenang, maka implementasi GTPP dilapangan belum dapat dilaksanakan secara optimal. Kita tunggu saja semoga dalam waktu yang tidak terlalu lama dapat diterbitkan, aamiin.

Jumat, 18 Desember 2020

AGROFORESTRY TANAMAN KENCUR

Menanam Kencur di Kebun Kita



Kencur atau Cikur adalah salah satu jenis empon-empon/tanaman obat yang tergolong dalam suku temu-temuan. Rimpang atau rizoma tanaman ini mengandung minyak atsiri dan alkaloid yang dimanfaatkan sebagai stimulan.

Tanaman kencur dapat tumbuh baik di lahan yang terbuka maupun pada lahan dibawah tegakan pohon. Dengan karakteristik tumbuh tanaman kencur yang toleran terhadap naungan maka kencur cocok untuk ditanam pada kegiatan agroforestry. Kombinasi antara tanaman berkayu dengan tanaman kencur dapat menjadi upaya dalam meningkatkan hasil tambahan pada usaha agroforestry sebelum tanaman pokok (tanaman kayu-kayuan maupun tanaman buah-buahan) menghasilkan.

Sebelum lebih lanjut membahas bagaimana menanam kencur, baiknya mengenal dulu apa itu tanaman kencur.

Klasifikasi Tanaman Kencur

Kingdom : Plantae

Famili : Zingiberaceae
Spesies : Kaempferia galanga

Persiapan Bibit

Bibit kencur diambil dari rimpang yang sudah cukup tua, rimpang tersebut disimpan pada tempat gelap hingga mengeluarkan tunas baru.



Persiapan Lahan

Tanah terlebih dahulu digemburkan dengan cara dicangkul sedalam 20-30 cm. Drainase disiapkan dengan baik agar tidak terdapat genangan air pada lahan maka perlu dibuat parit-parit untuk pemisah petak. Petak dibuat secara teratur selebar 2-3 meter, dan panjang petak dapat disesuaikan dengan keadaan di lahan tersebut.

Penanaman

Agar tanaman dapat tertanam rapi dan teratur maka jarak tanam yang baik sekitar 80 cm x 40 cm untuk kencur yang akan dipanen tua. Bibit ditanam dengan kedalaman 5-7 cm dan tunas dihadapkan ke atas. Penempatkan tunas jangan terbalik, karena hal tersebut akan berakibat memperlambat pertumbuhannya.


Pemeliharaan Tanaman

Pemupukan

Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, diperlukan pemberian pupuk. Pemberian pupuk kandang ataupun pupuk organik dapat dilakukan pada saat tanah dicangkul maupun pada saat pengolahan. Selain pupuk organic dapat digunakan juga pupuk kimia seperti pupuk Urea, pupuk TSP maupun pupuk KCL. Pemberian pupuk urea dan pupuk KCL dapat berikan dua kali, dan setengah bagian lagi dapat digunakan saat ditanam, dan sisanya digunakan saat tanaman kencur berumur 45 hari. Dalam memberikan pupuk, takaran untuk pupuk TSP digunakan saat penanaman. Tanah yang subur, takaran dalam memberikan pupuk dapat dikurangi.

Penyiangan

Penyiangan dapat dilakukan minimal satu bulan satu kali. Dalam melakukan penyiangan, setidaknya penyiangan untuk pertama kali dilakukan saat tanaman kencur berumur sekitar 2-3 minggu, dan untuk penyiangan selanjutnya dapat dilakukan selama 3-6 minggu sekali, tergantung pada kondisi gulma tersebut. Pencangkulan gulma dapat dilakukan di daerah yang jauh dari inti tanaman, tetapi gulma yang terdapat di dekat tanaman lebih baik dibersihkan secara perlahan dan hati-hati agar tidak mengenai tanaman, sehingga tidak merusak rimpang yang nantinya akan siap untuk dipanen.

Pengendalian Hama dan Penyakit

Hama yang sering datang pada tanaman kencur yaitu ulat pemakan daun ulat ini biasanya bernama ulat Karana diocles dan Udas pesfolus yang menyerang tanaman dengan cara menggerogoti daunnya. Apabila ulat yang menyerang masih dalam jumlah sedikit, penanggulangan dilakukan secara manual yaitu menangkap ulat dan membunuhnya. Tetapi apabila serangan ulat sudah berat, dapat dikendalikan dengan menggunakan insektisida, seperti jenis Nogos 50 EC. Dalam menggunakan insektisida tersebut haruslah sesuai dengan petunjuk dan takaran yang telah dituliskan dikemasannya.

Pemanenan

Panen dapat dilakukan setelah tanaman berusia 8-12 bulan. Caranya dengan menarik tanaman kencur sampai keluar akar rimpangnya. Bisa menariknya langsung dengan tangan ataupun menggunakan alat bantu seperti sekop kecil atau sabit. 


Mendapatkan hasil dari jerih payah yang telah dilakukan merupakan hal yang sangat memuaskan. Tanaman kencur dapat dipanen setelah tanaman tersebut berusia sekitar 8-12 bulan, atau saat musim kemarau datang. Saat kemarau datang, tanaman kencur akan mati, dan saat musim penghujan akan hidup kembali. Saat tanaman kencur mati, maka waktu itu kencur sudah dapat dipanen. Cara memanennya yakni dengan membongkar semua tanaman dan mengambil rimpangnya. Rimpang kencur yang sudah dipanen dibersihkan dari tanah yang melekat kemudian dimasukan kedalam wadah atau karung. Rimpang kencur siap untuk digunakan atau dijual.

Demikianlah cara bertanam kencur semoga bermanfaat.




Jumat, 27 November 2020

Budidaya Kaliandra Merah Sebagai Sumber Pakan Lebah


Kaliandra (
Calliandra spp) berasal dari famili Leguminoceae, sub famili mimosoideae adalah tanaman perdu yang berasal dari Amerika Latin. Terdapat dua jenis kaliandra yaitu kaliandra merah (Calliandra calothyrsus) dan kaliandra putih (Calliandra teragona). 

Kaliandra merah berbunga merah sedangkan kaliandra putih berbunga hijau keputihan. Kaliandra merah tingginya bisa mencapai 10 meter dengan diameter 20 cm serta mempunyai perakaran dangkal sampai dalam merupakan tanaman yang cocok untuk menghijaukan lahan yang kurang subur dan gersang.

Kaliandra merah tahan terhadap pangkasan dan mudah tumbuh terubusannya maka sangat cocok sebagai pemanfaatan kayu bakar. Kaliandra tahann terhadap naungan dan kekeringan dapat menekan alang-alang, menyuburkan tanah serta dapat mencegah erosi.

I.              PERSYARATAN TUMBUH

Kaliandra merah dapat tumbuh baik pada ketinggian antara 150-1500 meter/dpl dengan curah hujan minimal 1.000 mm/tahun. Kaliandra merah dapat hidup pada tanah yang kurang subur dan gersang oleh sebab itu dikatakan sebagai tanaman jenis pionir.

 II.            PENGADAAN BENIH/BIBIT.

Bibit kaliandra dapat diperoleh dari pembuatan persemaian dari biji terlebih dahulu yang kemudian dibuat stump. Benih dalam satu kilogram kurang lebih 14.000-14.500 biji. Penyemaian bisa langsung menaburkan biji atau dengan kantong plastik/polybag, dengan diberi perlakuan terlebih dahulu yaitu disiram dengan air panas yang kemudian direndam air dingin selama 24 jam, hal ini untuk mempercepat perkecambahan biji.

III.              PEMBUATAN TEMPAT PERSEMAIAN

 Tempat persemaian harus memenuhi syarat sebagai berikut :

a.    Dekat dengan jalan angkutan.

b.    Dekat dengan sumber tenaga kerja.

c.    Mudah mendapatkan air sepanjang tahun.

d.    Lahan bebas dai genangan aia dan  hama/penyakit.

e.    Petak persemaian sebaiknya dekat dengan lapangan penanaman.

IV.            PEMBUATAN BEDENGAN ERSEMAIAN

Ketentuan yang perlu diperhatikan dalam pembuatan bedengan persemaian adalah:

 1.      Ukuran bedengan menyesuaikan tempat namun umumnya berukuran 5x5 meter.

2.      Bedengan membujur ke arah utara selatan dan diperkuat dengan bambu atau batu bata.

3.      Jarak antar bedengan 0,45 meter dan dan setiap 5-10 bedengan dibuat jalan inspeksi.

Media bedengan persemaian terdiri dari campuran humus, kompos, dan pasir dengan perbandingan 7:2:1.

V.              CARA MEMBUAT BIBIT.

a.    Benih yang sudah diberi perlakuan langsung ditabur di bedengan dengan jarak 10x10 cm.

b.    Setelah ditabur persemaian disiram sehari 2 kali pagi dan sore.

Setelah bibit berumur 4-6 bulan bibit dibuat stump terlebih dahulu dengan ukuran stump panjan 30-50 cm  dan bagian akar 25 cm, bibit stump tujuannya dapat memudahkan pengangkutan ke lapangan dalam jumlah yang banyak.

VI.              PENANAMAN.

Sebelum bibit di tanam di lapangan terl;ebih dahulu dipasang ajir di setiap lubang tanaman. Ukuran lubang tanaman menyesuikan keadaan   tanah dan besarnya bibit. Pada lahan yang relatif keras diperlukan lubang berukuran 30x30x30 cm, dengan jarak tanam 1x1 meter.


VII.              PEMELIHARAAN TANAMAN

a.   Penyiangan

Yang dimaksud dengan penyiangan adalah membebaskan tanaman dari persaingan tumbuhan pengganggu (gulma), dengan cara membersihkan tumbuhan di sekitar tanaman dengan radius 1 meter atau kiri dan kanan larikan tanaman.  Penyiangan tanaman dilakukan tiap 3 bulan sampai dengan tanaman berumur 2 – 3 tahun.  Bila tajuk telah rapat perlu dilakukan pemangkasan kurang lebih setengah meter di atas permukaan tanah.  Waktu pemangkasan pada akhir musim kemarau sehingga pada musim penghujan segera bertunas kembali.

b.   Penyulaman

Penyulaman dilakukan dengan maksud mengganti tanaman di lapangan yang mati/rusak/kena penyakit.

VIII.              MANFAAT KALIANDRA MERAH

Kaliandra merah merupakan penghasil kayu bakar yang sangat dominan.  Atau dapat dikatakan sebagai kayu energi dan cocok dipergunakan untuk industri kecil dan rumah tangga.  Setiap kilogram kayu kaliandra kering dapat mengeluarkan antara 4.500-4.750 K Cal.

Kalindra merah ditanam secara monokultur dengan jarak tanam 1x1 m, pada akhir tahun pertama dapat berproduksi ± 100 sm/ha/th dan pada tahun berikutnya mencapai 200-250 sm/ha/th.


Manfaat kaliandra selain sebagai kayu energi/bakar juga mempunyai manfaat lain yaitu :

-     Memberikan kesuburan tanah untuk wilayah yang ditumbuhinya

-     Sebagai pohon budidaya lebah madu karena bunganya disukai oleh lebah

-     Sebagai penghasil pakan ternak karena daunnya dapat dimanfaatkan sebagai campuran pakan ternak, kambing, domba, dan lain-lain.

Demikian teknis budidaya tanaman kaliandra merah, semoga bermanfaat.